Sembahyang Tapi Masih Overthinking?Nilai Buda Wage Merakih dalam Mental Health.

Admin bulelengkab | 07 Januari 2026 | 238 kali

Setiap enam bulan sekali, kalender Bali mempertemukan umat dengan Buda Wage Merakih, perpaduan Sapta wara (Buda), Pancawara (Wage),wuku (Merakih)  umat Hindu selalu penuh dengan rutinitas sembahyang, banyak yang mebanten, banyak juga yang mengabadikan lewat momen upload di media digital, tetapi pertanyaannya jujur dan menjadi realita, mengapa setelah melaksanakan yadnya, hati masih ribut?


"Kalau setiap umat pernah merasa begitu, tentulah kita semua tidak sendirian, dan justru di situlah makna Buda Wage Merakih bekerja.

Buda Wage Merakih sebenarnya ditujukan untuk memuja Dewa siapa?

dalam tradisi Hindu Bali berdasarkan Lontar Sundarigama, Buda Wage Merakih dipersembahkan kepada Bhatari Manik Galih dalam Payogannya. Personifikasi   yang dipuja  hari ini adalah  energi yang menenangkan, membersihkan, dan melepaskan beban batin," terang Luh Irma Susanthi, S.Sos.,M.Pd selaku Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, dikonfirmasi, Rabu,(7/1) 


Lebih lanjut disampaikan oleh Irma dalam Lontar Sundarigama disebutkan, “Buda Wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, Betari Manik Galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara Mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.”

Artinya,

Bahwa hari ini adalah waktu terbaik untuk membersihkan mala (kekotoran batin), terutama pikiran yang penuh iri, marah, dan lelah mental.

Artinya:

Merakih itu bukan soal merapikan banten, tetapi merapikan isi kepala,"terang Irma.


Dikatakan Irma, mengapa namanya “Merakih”?Merakih berarti merajut ulang. Bukan hidup baru, tapi menata ulang hidup yang sudah terlalu kusut, kalau akhir-akhir ini umat sering merasa lelah, capek tapi nggak tahu capek karena apa, itulah tanda mental health kita sedang tidak baik- baik saja, dengan langkah sederhana senyum tipis, rajin sembahyang, tetapi ternyata ada juga fenomena semakin mendekat dengan Tuhan  malah gampang emosi, itu tanda kamu butuh Merakih batin atau menata bathin  bukan sekadar ritual.


"Tetapi Bukannya Yadnya Itu Janji Ketenangan?Jawabannya,  nggak otomatis.

Hindu itu jujur. Agama ini nggak pernah janji:

“Sembahyang rajin = hidup mulus.”

Yang dijanjikan adalah: hati yang kuat saat hidup nggak mulus," ungkapnya.


Sarasamuccaya  sloka 14 mewacanakan, Dharma yang dijaga akan melindungi. Buat bikin hidup sempurna, tetapi bikin hati lebih dewasa. Kalau setelah sembahyang kamu masih berproses, itu bukan gagal. Itu tanda kamu manusia yang sedang belajar sadar, dan itu dalam Hindu sudah sangat mulia.“Buda Wage Merakih mengajarkan, menyembuhkan diri adalah bagian dari menjaga kesucian hidup.


"Kesehatan mental dalam ajaran Hindu bukan lari dari luka, tapi berani duduk tenang bersama kesadaran. Konsep Buda dalam ilmu Wariga dengan Urip 7 mengajarkan mengatur Sapta Timira yang ada dalam diri setiap umat, Wage dengan Urip 4 mengajarkan ada empat jalan untuk menuju kebahagiaan yang disebut Catur Purusa Artha, dan Merakih dengan Urip 9 adalah konsep pelayanan umat dalam konsep Nawa Wida Bakthi, mari muliakan kehidupan kita bukan  untuk terlihat spiritual, tetapi bertumbuh dalam nilai spiritual dalam sebuah Sadhana kesadaran yang hakiki,"tutupnya.(wd)