Tumpek Krulut Bertemu Purnama, Ketika Kasih Sayang Bertemu Cahaya Kesadaran

Admin bulelengkab | 03 Januari 2026 | 102 kali

Momentum pertemuan yang sangat luar biasa, karena tidak setiap hari suci hadir dengan getaran yang sama. Ada hari-hari tertentu yang seolah membawa pesan lebih dalam dari semesta, mengetuk kesadaran manusia agar berhenti sejenak dan mendengar suara batinnya sendiri.

Tumpek Krulut yang bertepatan dengan Purnama Kepitu adalah salah satu sebuah perjumpaan sakral antara kasih sayang dan cahaya kesadaran, dalam Lontar Sundarigama, Tumpek Krulut dimaknai sebagai hari penyucian rasa, saat manusia diajak melembutkan batin dan merawat keindahan jiwa. Ia dipersembahkan kepada Bhatara Iswara, manifestasi Tuhan sebagai penjaga kesucian, seni, dan keharmonisan.

"Ketika Tumpek Krulut jatuh bertepatan dengan Purnama Kepitu, maknanya menjadi berlapis. Purnama adalah fase bulan paling terang sebuah simbol puncak kejernihan pikiran dan keterbukaan hati. Kepitu sendiri secara spiritual sering dikaitkan dengan proses penyembuhan dan pemurnian emosi, konsep sederhana namun penuh makna dari kemampuan untuk memahami konsep Sapta Timira yang selalu mengikuti ritme kehidupan, tujuh kegelapan yang ada dalam diri manusia, yang harus diperhitungkan dengan spirit dan kecerdasan,"ujar koordinator penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Buleleng Luh Irma Susanthi.

Lebih lanjut diterangkan oleh Irma, di tengah realitas hari ini ketika kasus bullying, depresi, dan bunuh diri, terutama di kalangan Gen Z, semakin mengkhawatirkan perpaduan Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu terasa sangat relevan. Kita hidup di zaman yang ramai suara, tetapi miskin empati. Banyak anak muda terlihat kuat di layar, namun rapuh di balik senyum digitalnya. Mereka sering merasa tidak cukup baik, tidak didengar, dan tidak dimengerti, dalam konteks inilah pesan Tumpek Krulut menemukan urgensinya. Kasih sayang dalam Hindu bukan emosi sesaat, tetapi laku hidup.

Diungkapkan bullying tumbuh dari ego dan kebencian, sedangkan bunuh diri sering lahir dari perasaan tidak dicintai. Maka jawaban spiritualnya bukan sekadar nasihat “harus kuat”, melainkan kehadiran yang menenangkan dan empati yang nyata. Purnama Kepitu menguatkan pesan ini dengan simbol cahaya.

"Lontar Sundarigama secara halus mengingatkan bahwa upacara tanpa penghayatan hanya akan menjadi rutinitas kosong. Hendaknya seseorang mengangkat dirinya dengan kesadaran, jangan menjatuhkan dirinya sendiri,"imbuhnya.

Tumpek Krulut dan Purnama Kepitu harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, mendengar tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di keluarga dan sekolah, serta mengakui bahwa kesehatan mental adalah bagian dari dharma menjaga kehidupan.

Penutup, pihaknya mengatakan kemarahan kehilangan tempatnya, kebencian melemah, empati menemukan ruang tumbuh, inilah kondisi batin ideal untuk menekan kekerasan verbal, bullying, dan keputusasaan hidup. Nilai dalam cahaya kesadaran dan kasih sayang adalah  yang termulia, makna dari kitab suci Bhagavadgita dan kajian lontar Sundarigama  sebagai peneguh kesadaran umat dan menegaskan bahwa cahaya kesadaran adalah kunci pembebasan dari kegelapan batin.(wd)