Perpustakaan Mahima Resmi Dibuka, Wabup Supriatna: Jangan Biarkan Sastra Buleleng Redup

Admin bulelengkab | 31 Maret 2026 | 858 kali

Komitmen memperkuat budaya literasi di Buleleng kembali mendapat energi baru dengan diresmikannya Perpustakaan Mahima, Selasa (31/3). Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, ditandai dengan pemotongan pita di tengah antusiasme pelajar, komunitas, dan pegiat literasi.


Dalam sambutannya, Wabup Supriatna menyampaikan pesan yang kuat dan menggugah. Ia mengaku bersyukur atas kehadiran Komunitas Mahima yang dinilai berperan penting menjaga denyut sastra di Buleleng.


“Kalau tidak ada Mahima, saya khawatir seni sastra di Buleleng akan semakin redup, bahkan bisa hilang. Maka keberadaan perpustakaan ini bukan hanya penting, tapi sangat strategis untuk masa depan literasi kita,” tegasnya.


Ia menekankan bahwa Buleleng memiliki sejarah panjang sebagai pelopor sastra modern di Bali. Oleh karena itu, generasi muda didorong untuk memanfaatkan Perpustakaan Mahima sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan mengembangkan minat literasi.


“Adik-adik siswa dan mahasiswa, manfaatkan tempat ini. Di sini bukan hanya membaca buku, tapi juga bisa berinteraksi, berdiskusi, dan tumbuh bersama dalam dunia literasi dan budaya,” ajaknya.


Lebih jauh, Wabup Supriatna juga menyoroti pentingnya keseimbangan perhatian pemerintah terhadap seluruh cabang seni, termasuk sastra yang dinilai masih perlu lebih banyak ruang tampil.


“Jangan hanya gong kebyar yang tampil. Sekali-sekali tampilkan juga sastra, seperti baca puisi bersama. Ini penting agar semua cabang seni budaya kita hidup dan berkembang,” ujarnya.


Ia juga mendorong sinergi antara komunitas, pemerintah, dan lembaga budaya seperti Gedong Kirtya agar literasi berbasis kearifan lokal semakin kuat dan dikenal generasi muda.


Sementara itu, Ketua Yayasan Mahima Singaraja, Kadek Sonia Piscayanti, menyampaikan bahwa Perpustakaan Mahima merupakan “hadiah” bagi Kota Singaraja setelah perjalanan panjang komunitas sejak tahun 2008.


“Ini mungkin ruangnya kecil, tapi visinya besar. Kami ingin menjadikan Singaraja sebagai kota literasi, kota sastra, dan kota pendidikan,” ungkapnya.


Mahima sendiri telah berkembang dengan berbagai divisi, mulai dari sastra, teater, film, musikalisasi puisi, hingga jurnalisme warga. Kehadiran perpustakaan ini diharapkan menjadi pusat aktivitas literasi yang inklusif dan berkelanjutan.


Acara peresmian juga dirangkaikan dengan diskusi singkat yang dipandu Made Adnyana Ole bersama beberapa pimpinan OPD lingkup Pemkab Buleleng, membahas pengembangan perpustakaan ke depan.


Dengan diresmikannya Perpustakaan Mahima, diharapkan semangat literasi di Buleleng semakin tumbuh, sekaligus memperkuat identitas daerah sebagai salah satu pusat sastra dan budaya di Bali. (Suy)