Ikuti Kami

Banting Setir Dari Pesiar, Eka Dharmawan Sukses Kelola Sampah Plastik di Bali

Admin bulelengkab | 22 April 2022 | 373 kali

Sangat jarang dijumpai, bahkan tidak masuk akal untuk meninggalkan pekerjaan  yang banyak diidamkan masyarakat luas hanya untuk mengelola sampah.

Salah satu warga Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng ini memang terbilang nekat. Pasalnya ia meninggalkan pekerjaannya di Kapal Pesiar demi mewujudkan keinginan besarnya mengelola sampah plastik yang selama ini telah menjadi momok yang merusak kelestarian lingkungan.

Putu Eka Dharmawan,(33), ia adalah sosok laki-laki yang membuang segala kepentingan gengsinya  untuk mewujudkan lingkungan yang bebas dari sampah plastik. Kisahnya berawal ketika ia terheran-heran akan pengolahan sampah plastik di Kapal Pesiar tempatnya bekerja. Semua sampah plastik disana dikelola dengan baik hingga menjadi cacahan plastik kecil dan bersih untuk kemudian dijual kembali.

Dari sanalah, Eka bertekad untuk menerapkan pengolahan sampah di Kapal Pesiar itu ke daerah asalnya, yakni Buleleng. Ia menilai Buleleng dan daerah lainnya masih terkendala akan keberadaan sampah plastik yang jumlahnya terus meningkat setiap harinya. Terlebih kesadaran masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan. “Saya ingin membantu mengurangi volume sampah plastik yang beredar di masyarakat dan juga untuk kepentingan bisnis jangka panjang,” terangnya.

Usaha pengolahan sampah plastiknya berlokasi di Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng dan  ia namai Rumah Plastik Singaraja. Eka tidak begitu saja langsung membangun bentuk fisik usahanya,namun ia mengawalinya dengan membangun jaringan bisnis, mempelajari standar kualitas hingga pemasaran cacahan plastik.

Pada tahun 2016, ayah dua anak ini mulai membuat rangkaian mesin pencacah rancanganya sendiri dengan memanfaatkan pengusaha las sekitar tempat tinggalnya. Proses pengolahan sampah plastiknya tentu saja tidak akan berjalan dengan baik tanpa melibatkan peran masyarakat alias sumber sampah plastik. Namun demikian, ia juga tidak menerima kiriman sampah perorangan. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi persaingan harga yang dapat menjatuhkan nilai jual sampah plastik di Buleleng, dan Bali pada umumnya. “Mereka yang ingin menjual sampah plastik wajib membentuk kelompok bank sampah terlebih dahulu. Jika belum terbentuk, saya siap memberikan edukasi kepada mereka. Ini penting untuk menjaga nilai jual sampah di pasaran Buleleng dan Bali. Kenapa begitu? Karena kami menerima sampah itu dengan harga yang lebih tinggi dari kebanyakan,” terang Eka.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat, Eka memberikan kesempatan bebas kepada warga Desa Petandakan secara perorangan untuk menjual sampah plastiknya. Tidak hanya itu, ia juga mengajak masyarakat untuk bergabung dalam usahanya, mulai dari memilah jenis dan warna sampah hingga sampai pada proses pencacahan dan pengemasan cacahan sampah plastik.

Hingga kini sudah banyak masyarakat sekitar bahkan hingga asal Karangasem juga ikut membantu usahanya, baik itu remaja maupun lansia. Ia selalu membuka pintu lebar-lebar jika ada warga yang ingin bekerja membantu memilah sampah plastik. Dari ceritanya, terdapat beberapa anak kecil dan lansia yang bekerja memilah sampah plastik. Tidak ada aturan ketat harus mencapai target tertentu dalam hasil pilahan sampah. “Ada beberapa anak SD sepulang sekolah ikut memilah sampah disini, mereka kumpulkan per karung, jika sudah cukup saya berikan upah. Saya sangat senang melihat semangat mereka, apalagi ketika menerima upah atas jerih payahnya sendiri,” ujarnya sembari tersenyum.

Kini Pria inspiratif ini telah mampu meningkatkan kapasitas mesinnya jauh lebih besar hingga mencapai 500 kilogram per jam dan mengatasi 30 kelompok bank sampah di Buleleng, serta kelompok bank sampah lainnya di Bali.

Atas kerjasama dengan pihak industri besar di Bandung, sejak tahun 2017 ia secara berkelanjutan mengirim hasil cacahan plastik dengan kualitas full grade berjumlah minimal 14 ton. (Agst).