Modal Ketekunan, Gede Suarsa Sulap Bambu Jadi Kerajinan Bernilai Seni

Admin bulelengkab | 10 Oktober 2026 | 53 kali

Batang bambu selama ini identik dengan bahan bangunan atau perlengkapan rumah tangga. Namun, di tangan Gede Suarsa Ariawan bambu memiliki cerita berbeda. Dari bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, ia mampu melahirkan beragam kerajinan bernilai seni dan ekonomi.


Warga Banjar Menasa, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, ini mulai mengembangkan kerajinan bambu secara mandiri sejak 2019. Usaha yang diberi nama Manasa Handycraft tersebut kini menghasilkan berbagai produk, mulai dari pulpen, tumbler, sedotan hingga asbak.


“Awalnya saya membuat pulpen dari bahan bambu. Bahan bakunya juga tidak terlalu sulit dicari,” ujar Gede Suarsa Ariawan saat ditemui tengah mengerjakan salah satu produknya, Jumat (9/10).


Berawal dari sebuah pulpen bambu, kreativitas Gede Suarsa Ariawan terus berkembang. Bambu tidak sekadar dibentuk menjadi barang yang memiliki fungsi, tetapi juga dipadukan dengan sentuhan seni tradisi Bali. Sejumlah produk dihiasi gambar dan lukisan bernuansa budaya Bali, termasuk tokoh pewayangan.


Pulpen bambu menjadi salah satu produk yang menjadi ciri khas Manasa Handycraft. Proses pembuatannya dimulai dari pemilihan bambu yang telah kering. Bambu kemudian dipotong sesuai ukuran, dengan badan pulpen sekitar 12 sentimeter dan bagian tutup sekitar 5 sentimeter.


Potongan bambu selanjutnya diamplas hingga permukaannya halus dan siap dihias. Di sinilah sentuhan tangan pengrajin menjadi pembeda. Gambar wayang pada permukaan pulpen dibuat secara langsung tanpa menggunakan mal.


“Untuk menggambar wayangnya sekitar dua menit karena saya gambar langsung, tidak menggunakan mal,” jelasnya.


Dalam sehari, Gede Suarsa Ariawan mampu menghasilkan sekitar 20 buah pulpen bambu. Setiap pulpen dibanderol mulai dari Rp25 ribu. Sementara produk lainnya memiliki harga yang bervariasi, tergantung desain serta tingkat kesulitan pengerjaannya.


Meski memiliki potensi yang cukup besar, perjalanan usaha tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya keterbatasan tenaga kerja. Kondisi ini membuat kapasitas produksi belum maksimal dan keikutsertaan dalam berbagai pameran di tingkat kabupaten belum dapat dilakukan secara rutin.


“Usaha kami masih sulit mencari tenaga kerja. Jadi untuk pameran di tingkat kabupaten juga masih jarang ikut karena produk kami terbatas,” ungkapnya.


Untuk pemasaran, Manasa Handycraft masih mengandalkan cara sederhana. Pesanan datang dari pembeli lokal melalui aplikasi WhatsApp. Selain itu, kerajinan bambu tersebut juga mulai menarik perhatian tamu dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Sinabun.


Dari berbagai produk yang dihasilkan, usaha tersebut kini mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp 5 juta per bulan. Potensi peningkatan pendapatan masih terbuka apabila kapasitas produksi, tenaga kerja dan akses pemasaran dapat terus diperkuat.


Bagi Gede Suarsa Ariawan, bambu bukan lagi sekadar bahan yang tumbuh di sekitar desa. Dengan kreativitas dan ketekunan, batang bambu dapat berubah menjadi produk bernilai seni, membawa identitas budaya Bali sekaligus menjadi sumber penghasilan.


Terakhir, ia berharap kerajinan bambu di Sinabun tidak hanya melahirkan produk kreatif, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan menggerakkan potensi ekonomi lokal berbasis sumber daya desa. 


Sementara itu, Perbekel Sinabun, Nyoman Sumanada ketika dihubungi, menilai kerajinan bambu menjadi salah satu potensi ekonomi kreatif yang layak dikembangkan. Keberadaan usaha tersebut dinilai sejalan dengan karakteristik masyarakat Desa Sinabun yang sebagian besar bergerak di sektor pertanian dalam arti luas, termasuk perkebunan dan peternakan.


Ketersediaan bambu yang cukup melimpah di wilayah desa juga menjadi peluang ekonomi yang dapat dikembangkan. Bahan yang sebelumnya belum memiliki nilai tambah dapat diolah menjadi produk kerajinan yang memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.


“Harapannya inovasi pengrajin ini bisa memberdayakan masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan membuat bahan baku yang tersedia di wilayah desa menjadi memiliki nilai ekonomis,” ucapnya.


Menurutnya, pengembangan kerajinan bambu tidak hanya memberikan ruang bagi pengrajin. Masyarakat yang memiliki tanaman bambu juga dapat terlibat sebagai pemasok bahan baku. Dengan demikian, mata rantai ekonomi dapat tumbuh mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran.


Pemerintah desa pun berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk memperkuat pengembangan usaha tersebut. Dukungan dapat berupa peningkatan kapasitas produksi, bantuan peralatan yang lebih modern, pelatihan keterampilan hingga perluasan akses pemasaran.


Produk kerajinan bambu dari Sinabun sendiri telah beberapa kali mendapat kesempatan tampil dalam kegiatan pameran, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.


Keikutsertaan tersebut menjadi sarana promosi sekaligus kesempatan memperkenalkan potensi Desa Sinabun dan Kabupaten Buleleng melalui karya kreatif masyarakat.


“Harapan kami pemerintah atau instansi terkait bisa membantu, terutama alat-alat yang lebih canggih sehingga proses pengerjaan kerajinan bisa lebih cepat,” harapnya. (Wir)