Dari Payas Ningrat hingga Pedawa, Buleleng Sukses Bercerita Lewat Busana Adat

Admin bulelengkab | 22 Juni 2026 | 42 kali

Belasan peraga busana dari Kabupaten Buleleng menarik perhatian seluruh penonton di panggung Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (21/6). Mereka tidak sekadar menampilkan busana adat dalam Utsawa (Parade) Busana Adat Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, tetapi juga membawa cerita tentang warisan budaya yang masih hidup di desa-desa tua Buleleng.


Tahun ini, Buleleng menghadirkan Payas Ningrat Buleleng berdampingan dengan busana khas Desa Bali Mula Sidetapa, busana Pecalang Buleleng, serta busana yang digunakan dalam tradisi Memukur dan Ngadegang Bubur Dewata. Penampilan tersebut menjadi upaya memperkenalkan identitas budaya Buleleng sekaligus menunjukkan keberagaman tradisi yang masih lestari di Bali Utara.


Koordinator Parade Busana Adat Kabupaten Buleleng, Nyonya Karnadi Parwati Panji, mengatakan penampilan Buleleng tahun ini dirancang sebagai sebuah alur cerita yang menggambarkan prosesi adat khas daerah. Berangkat dari tema PKB 2026, Atma Kerti: Mahakarya Jagat Kerthi, berbagai busana tradisional ditampilkan secara berurutan sehingga membentuk narasi budaya yang utuh.


“Payas pengantin tetap kami tampilkan karena itu merupakan identitas daerah yang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Selain itu kami juga menampilkan busana desa Bali Mula yang masih lestari hingga saat ini,” ujarnya.


Nyonya Karnadi menjelaskan, parade diawali dengan penampilan Busana Pecalang Buleleng yang mengenakan kain panjang hitam melancingan, kampuh poleng hitam, baju hitam, destar dara kepek bertepi poleng, serta keris sebagai identitas penjaga adat. Saput poleng yang dikenakan melambangkan tugas pecalang menjaga harmoni dan keseimbangan antara dunia sekala dan niskala.


Selanjutnya, pecalang menyambut prajuru Desa Bali Mula Sidetapa yang mengenakan busana khas desa tersebut. Para pria tampil dengan kain dan kampuh bebali tanpa baju serta destar batik, sedangkan kaum perempuan mengenakan kain bebali, kebaya hujan gerimis warna benhur, selendang bebali, dan tengkuluk sederhana yang menjadi ciri khas perempuan Sidetapa. Busana tersebut mencerminkan kesetiaan masyarakat terhadap adat warisan leluhur yang masih dipertahankan hingga kini.


Buleleng juga menampilkan Busana Pengantin Ningrat sebagai salah satu identitas budaya daerah. Sosok raja dan permaisuri diperagakan dengan busana kebesaran khas Buleleng yang sarat ornamen perada dan hiasan kepala tradisional. Kehadiran Payas Ningrat ini menjadi pengingat bahwa setiap daerah di Bali memiliki kekhasan busana pengantin yang patut terus dilestarikan dan digunakan dalam berbagai prosesi adat.


Alur parade kemudian berlanjut pada prosesi Memukur. Kerabat puri mengenakan busana khusus berupa kain bebali motif dobol, songket Buleleng, kebaya putih, serta tata busana meleluwakan khas Buleleng yang ditandai dengan posisi tagelan di sisi kanan. Filosofi busana tersebut melambangkan penyatuan pikiran dari dunia sekala menuju niskala sebagai bagian dari perjalanan spiritual dalam upacara Memukur.


Puncak penampilan menggambarkan prosesi Ngadegang Bubur Dewata. Seorang cucu raja mengenakan busana serba putih sebagai simbol kesucian saat mengaduk Bubur Dewata hingga matang. Raja, permaisuri, dan cucu raja kemudian berjalan beriringan membawa sangku menuju tempat upacara sebagai simbol menstanakan kekuatan Dewata serta memohon kehadiran para Dewata-Dewati untuk memberikan tuntunan dan penyucian kepada roh leluhur.


Sementara itu, Salah seorang peraga busana, Ketut Andika Pratama Dwi Payana, mengatakan keterlibatannya dalam parade ini menjadi pengalaman berharga untuk mengenalkan kekayaan budaya Buleleng kepada masyarakat yang lebih luas.


“Ini pertama kali saya ikut Utsawa Busana Adat Buleleng. Saya berharap masyarakat tidak hanya melihat keindahan busananya, tetapi juga mengetahui sejarah dan makna budaya yang ada di baliknya,” katanya.


Andika yang juga aktif dalam komunitas Semeton Jegeg Bagus (Sejebag) Buleleng mengaku para peraga telah menjalani persiapan selama sekitar satu hingga dua bulan. Menurutnya, parade busana adat menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Buleleng, termasuk busana-busana khas desa Bali Aga yang belum banyak dikenal masyarakat. (Ag)