Penataan kawasan titik nol Kota Singaraja di Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja kini memasuki babak baru. Tidak hanya berfokus pada estetika ruang terbuka publik, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melengkapinya dengan menghadirkan Galeri Singa Ambara Raja (SAR) sebagai etalase sentral bagi produk-produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Galeri yang memanfaatkan lahan bekas Kantor Satpol PP Buleleng di sebelah utara Gedung Laksmi Graha ini dirancang menjadi wadah integrasi seluruh produk unggulan daerah yang selama ini pemasarannya masih tersebar di berbagai wilayah.
Keberadaan Galeri SAR diproyeksikan untuk memudahkan wisatawan maupun masyarakat umum dalam mendapatkan produk khas Buleleng tanpa harus mendatangi sentra produksinya secara langsung. Setelah bangunan fisik selesai, kini sedang dirancang pengisian gedung.
Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disdagperinkop UKM) Kabupaten Buleleng, Dewa Made Sudiarta, menjelaskan bahwa pengisian Galeri SAR dilakukan melalui tahap kurasi ketat di bawah arahan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Buleleng.
Untuk tahap awal, galeri fokus memamerkan produk kriya, tenun, fashion, hingga aksesori berbahan kayu dan logam yang memiliki identitas serta kebudayaan lokal Buleleng.
"Pada tahap awal ini terdapat sekitar 22 pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) sektor kriya dan kerajinan yang terakomodasi di Galeri SAR. Kriterianya adalah produk asli Buleleng, mengangkat citra budaya lokal, serta memiliki potensi pasar yang terus berkembang," papar Dewa Sudiarta ditemui Jumat (14/8/2026) di Warung Soenda Ketjil.
Dewa Sudiarta menambahkan, selain berfungsi sebagai etalase pameran, Galeri SAR ke depan juga difungsikan sebagai hub kreativitas untuk peningkatan kompetensi serta promosi para pelaku usaha secara berkelanjutan.
Langkah terobosan Pemkab Buleleng ini mendapat apresiasi positif dari kalangan muda. Ketua Umum Wirausaha Muda Singaraja (WMS), Gede Pasek Reksa Saputra, menilai keberadaan Galeri SAR sangat krusial dalam mengatasi kendala utama yang selama ini dihadapi para pelaku usaha lokal, yakni masalah pemasaran.
Kendati demikian, Pasek Reksa menegaskan bahwa keberadaan galeri tersebut harus memberikan dampak riil bagi perekonomian, tidak sekadar menjadi simbol fisik pembangunan.
"Kami berharap bangunan ini bukan sekadar simbolis pembangunan saja, tetapi betul-betul menjadi ruang bertemunya produk UMKM Buleleng dengan pasar yang lebih luas. Dengan traffic pengunjung dan wisatawan yang besar, produk UMKM kita harus bisa menghasilkan penjualan (sales) yang nyata," ujar Pasek Reksa.
Lebih lanjut, ia mendorong para anak muda di Buleleng untuk memanfaatkan ruang kolaborasi ini secara maksimal agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah masifnya pembangunan daerah.
"WMS siap diberikan ruang untuk berkolaborasi bersama. Kami ingin anak muda di Buleleng tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga jadi motor penggerak ekonomi. Banyak potensi yang bisa digali, dan kami berharap Pemkab terus mendukung agar ini bisa membuka lapangan pekerjaan baru di Buleleng," tegasnya.(lik)