Direktur lnternational Organization of Folk Art (IOV) UNESCO Indonesia Wilayah Bali, I Gusti Ngurah Eka Prasetya atau akrab disapa Gus Eka, menyatakan Buleleng kembali dipercaya menjadi tuan rumah Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Menurut dia, kepercayaan dari UNESCO bersama IOV Indonesia tersebut menjadi bukti bahwa Bali Utara semakin diakui sebagai panggung budaya internasional.
“Ini bukan sekadar festival. Ini adalah bentuk kepercayaan dunia internasional kepada Buleleng dan Bali Utara yang konsisten menjaga, merawat, sekaligus mempromosikan seni tradisi melalui diplomasi budaya,” kata Gus Eka dalam press conference di Puri Kanginan, Sabtu, (14/2)
Gus Eka mengatakan BIRF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Maret. Kegiatan inti akan digelar pada 11–14 Maret, sementara para partisipan dijadwalkan check-in pada 10 Maret dan check-out pada 15 Maret.
Menurut Gus Eka, festival tahun ini akan menghadirkan seniman, budayawan, dan akademisi dari enam negara. Mereka akan memperkenalkan budaya masing-masing sekaligus membangun pertukaran pengetahuan lintas negara melalui seni dan ritme tradisional dunia.
Penyelenggaraan BIRF kata Gus Eka merupakan hasil kolaborasi UNESCO bersama IOV Indonesia dan anggota UNESCO dari Bali, yakni Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya sebagai penggerak utama. Selama tiga kali pelaksanaan, festival ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng bersama Puri Kangenan Buleleng.
“Kami bersyukur pemerintah daerah dan unsur puri konsisten mendukung program budaya internasional di Bali Utara. Ini menunjukkan kolaborasi lintas elemen berjalan kuat dan berkelanjutan,” ujar seniman yang juga Ketua Sanggar Seni Santi Budaya itu.
Dukungan akademik datang dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang menjadi penyelenggara program kegiatan. Menurut Gus Eka, keterlibatan kampus memperkuat aspek edukasi dan riset, sekaligus membuka ruang partisipasi generasi muda.
“Undiksha memberi penguatan pada sisi pendidikan dan penelitian. Mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dan penggerak dalam promosi budaya,” ucapnya.
Ia menambahkan, sejumlah delegasi internasional bahkan telah tiba lebih awal dan menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Bali Selatan, serta mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Pulau Bali.
“Ini membuktikan dampak festival tidak hanya dirasakan di Buleleng, tetapi juga di destinasi lain di Bali. Ada pergerakan wisatawan dan aktivitas ekonomi yang ikut tumbuh,” kata Gus Eka.
Pelibatan masyarakat, menurut dia, menjadi kekuatan utama BIRF. Desa Wisata Panji dan Desa Wisata Kalibukbuk dilibatkan melalui pengenalan budaya Bali dan wisata menonton lumba-lumba. Sejumlah UMKM turut ambil bagian, seperti UMKM Desa Panji dengan olahan sorgum serta UMKM Desa Tigawasa dengan produk ulatan bambu.
Festival ini juga menggelar workshop di sejumlah sekolah dan kampus di Buleleng, antara lain Universitas Pendidikan Ganesha, SMA Negeri 1 Singaraja, SMK Negeri 1 Sawan, SMP Negeri 1 Singaraja, PPLP Pansophia Singaraja, dan LPK Kencana Hospitality Bali.
“Melalui workshop, delegasi memperkenalkan budaya mereka kepada siswa dan mahasiswa. Sebaliknya, para pelajar juga memperkenalkan budaya dan keunikan sekolah masing-masing. Di situlah terjadi pertukaran budaya yang nyata,” ujar Gus Eka.
Ia berharap BIRF mampu menghadirkan warna baru dalam sektor pariwisata Bali melalui penguatan wisata edukasi dan konservasi budaya. Selain berdampak secara ekonomi, festival ini juga membawa dampak sosial dan budaya, terutama dalam membangun rasa percaya diri masyarakat lokal.
“Kita ingin generasi muda semakin bangga dengan budayanya sendiri. Ketika budaya itu diapresiasi oleh bangsa-bangsa lain, kepercayaan diri masyarakat akan tumbuh,” kata dia.
Gus Eka menegaskan, kolaborasi antara UNESCO, IOV Indonesia, Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya, Pemerintah Daerah, Puri Kangenan Buleleng, serta Universitas Pendidikan Ganesha diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas Bali Utara sebagai pusat budaya dunia.
“Melalui diplomasi seni yang berkelas dan berkelanjutan, Bali tidak hanya dikenal karena alamnya, tetapi juga karena kekuatan budayanya,” tutupnya. (can)