Debut di PKB, Wayang Genjek Bungkulan Buktikan Tradisi Mampu Beradaptasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Admin bulelengkab | 10 Juli 2026 | 20 kali

Untuk pertama kalinya, Wayang Genjek Bungkulan tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Momentum bersejarah tersebut menjadi bukti bahwa seni tradisi khas Buleleng terus berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai, filosofi, dan pakem yang diwariskan leluhur. Semangat itu dihadirkan kelompok seni asal Banjar Dinas Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, melalui garapan "Kala Baka: Ruwat Atma Ekachakra" yang dipentaskan di depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (9/7), dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.


Koordinator Wayang Genjek Bungkulan, Komang Juni Mahardika, mengatakan keikutsertaan pada PKB menjadi tonggak penting bagi perjalanan Wayang Genjek sebagai salah satu kesenian khas Buleleng. Menurutnya, kesempatan tampil di panggung seni terbesar di Bali menjadi ruang untuk memperkenalkan inovasi seni tradisi yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya.


Wayang Genjek sendiri merupakan perpaduan seni pedalangan dengan vokal genjek yang lahir sebagai bentuk kreativitas masyarakat Buleleng. Meski menghadirkan penyajian yang lebih komunikatif dan atraktif, seluruh unsur utama dalam seni pewayangan tetap dipertahankan.


Komang Juni menegaskan, Wayang Genjek Bungkulan tetap berpegang pada pakem pedalangan Buleleng, termasuk mempertahankan penggunaan lampu minyak sebagai sumber pencahayaan, bukan lampu listrik. Dalam filosofi pewayangan Buleleng, setiap unsur pementasan memiliki makna. Batang pisang (gedebong) yang menjadi tempat menancapkan wayang melambangkan Pertiwi atau bumi, sementara kelir dimaknai sebagai langit, dan nyala api lampu minyak merepresentasikan Surya atau matahari yang memberikan kehidupan sekaligus menjaga keseimbangan alam. 


"Yang kami ubah adalah cara penyajiannya agar lebih komunikatif dan menarik bagi penonton. Namun, nilai, cerita, dan esensi wayangnya tetap kami jaga," ujarnya.


Keunikan Wayang Genjek terlihat dari harmonisasi antara dalang, tokoh wayang, penembang genjek, penabuh gender, hingga pemain suling yang saling merespons sepanjang pementasan. Pada adegan-adegan tertentu, terutama yang menghadirkan tokoh punakawan, iringan genjek mengalir secara alami sehingga menciptakan pertunjukan yang lebih dinamis tanpa menghilangkan identitas wayang sebagai media penyampai nilai-nilai kehidupan.


Komang Juni menjelaskan, Wayang Genjek hingga kini masih banyak dipentaskan dalam berbagai upacara adat, khususnya Manusa Yadnya seperti upacara tiga bulanan dan mepandes. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang dilakukan tidak menggeser fungsi maupun makna sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun.


Ia menambahkan, kolaborasi Wayang Genjek mulai berkembang di Buleleng sejak awal tahun 2000-an ketika sejumlah dalang senior mulai memadukan seni pedalangan dengan vokal genjek. Sejak saat itu, kesenian ini terus berkembang sebagai salah satu identitas budaya Buleleng yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.


Dalam setiap pementasan, Wayang Genjek Bungkulan didukung sekitar 10 personel yang terdiri atas dalang, penabuh gender, pemain suling, penembang genjek, dan pendukung lainnya. Kekompakan seluruh pemain menjadi kekuatan utama dalam membangun interaksi yang menjadi ciri khas pertunjukan tersebut.


Penampilan perdana di PKB XLVIII menjadi pembuktian bahwa Wayang Genjek bukan sekadar hasil kreasi baru, melainkan bentuk pelestarian budaya yang adaptif. Tradisi tetap dijaga pada esensinya, sementara kreativitas menjadi jembatan agar seni warisan leluhur tetap relevan dan dapat diterima oleh generasi masa kini.


Komang Juni berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari seni pedalangan maupun tabuh gender sehingga Wayang Genjek tidak hanya dikenal sebagai tontonan, tetapi juga terus hidup sebagai warisan budaya lintas generasi.


"Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Justru dengan berkreasi tanpa meninggalkan esensinya, warisan leluhur akan tetap hidup dan dicintai oleh generasi berikutnya," pungkasnya. (Ag)