Upaya memperkuat ketahanan pangan sejak usia dini terus digencarkan di Kabupaten Buleleng. Salah satunya melalui Program Ketahanan Pangan Berbasis Sekolah yang diinisiasi oleh Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Buleleng.
Program ini mulai dilaksanakan pada Senin (12/1) dengan menyasar empat sekolah, yakni SD Negeri 3 Banjar Jawa, SMP Negeri 1 Singaraja, SMA Negeri 1 Singaraja, dan SMK Negeri 3 Singaraja.
Pelaksanaan program mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Buleleng. Hadir langsung Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa, mewakili Bupati Buleleng didampingi Asisten 1 Sekda Buleleng dan pimpinan OPD terkait. Dalam sambutannya, Sekda Gede Suyasa menekankan pentingnya menanamkan kesadaran ketahanan pangan kepada peserta didik secara berkelanjutan, tidak sebatas pada kegiatan menanam semata.
“Sering kali program ketahanan pangan hanya berhenti pada kegiatan menanam, tanpa dilanjutkan dengan perawatan. Padahal, keberlanjutan bibit dan proses pemeliharaan adalah kunci agar program ini benar-benar memberi manfaat,” tegasnya.
Menurutnya, sekolah merupakan sektor yang sangat strategis dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Selain sebagai pusat pendidikan, sekolah juga menjadi ruang pembentukan karakter dan kebiasaan positif generasi muda, termasuk budaya menanam dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, YSPN turut menyerahkan ribuan bibit tanaman cabai dan terong, pupuk, serta menyalurkan bantuan sembako kepada siswa kurang mampu sebagai bentuk kepedulian sosial.
Sementara itu, Pembina YSPN, Akmal Malik, menjelaskan bahwa yayasan yang dipimpinnya merupakan lembaga independen yang bekerja dengan dukungan sejumlah kementerian, termasuk Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian, serta bermitra dengan pemerintah daerah.
Untuk wilayah Bali, Buleleng dipilih sebagai mitra strategis. Program serupa sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah provinsi, seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Riau, sebelum akhirnya diterapkan di Bali.
Akmal Malik menegaskan bahwa pembangunan pertanian selama ini masih didominasi pada aspek infrastruktur dan sarana produksi. Sementara pembangunan etos, spirit, dan budaya menanam belum tergarap secara optimal.
“Kunci kemandirian pangan ada pada etos dan budayanya. Bali dikenal sebagai daerah tujuan wisata karena budayanya. Selama ini budaya seni yang ditonjolkan, ke depan kita ingin mendorong budaya menanam. Dampaknya sangat besar terhadap kemandirian pangan,” ujarnya.
Ia mencontohkan kebutuhan bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan besar, seperti telur dan sayuran, sementara produksi lokal belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan.
Karena itu, sekolah dinilai memiliki peran penting sebagai pusat edukasi sekaligus produksi pangan skala kecil yang berkelanjutan. Yayasan Swatantra Pangan Nusantara pun berkomitmen melakukan pendampingan berkelanjutan dengan melibatkan organisasi petani dan generasi muda.
Akmal Malik berharap program ini dapat menjadi percontohan nasional dan menumbuhkan gagasan-gagasan besar dari Buleleng.
“Buleleng memiliki spirit yang kuat dan telah melahirkan banyak tokoh hebat. Kami berharap program ini menjadi pemicu lahirnya inovasi dan budaya menanam yang bisa diadopsi secara luas,” pungkasnya.