Wajah Baru Kota Singaraja, Dulu Dilewati, Kini Disinggahi

Admin bulelengkab | 27 Agustus 2026 | 40 kali

Lima tahun lalu, bagi Made Suastika (36), Singaraja hanyalah bagian dari perjalanan. Warga asal Kabupaten Tabanan yang bekerja sebagai sopir travel itu terbiasa melintas di kawasan depan Kantor Bupati Buleleng saat mengantar wisatawan menuju Lovina.

Dalam sepekan, ia bisa hampir dua kali melintas di kawasan tersebut. Namun, selama bertahun-tahun, ia hanya lewat dan tidak pernah menyempatkan diri untuk singgah.

Kini, kebiasaan itu berubah. Setelah kawasan tersebut ditata, Suastika mulai menyempatkan diri berhenti ketika sore atau petang tiba. Usai mengantar wisatawan, ia tak lagi sekadar melintas, tetapi singgah sejenak di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja untuk menikmati suasana sekaligus “cuci mata”.

“Dulu saya hanya lewat dan tidak pernah singgah. Namun, setelah kawasan ini ditata, kalau sore atau petang, setelah mengantar wisatawan, saya menyempatkan diri berhenti sebentar, ujar Suastika.

Setidaknya sudah empat kali ia menyempatkan singgah di Praja Mandala Singa Ambara Raja setelah mengantar wisatawan ke Lovina. Baginya, perubahan wajah Kota Singaraja terasa hampir di seluruh kawasan yang dilaluinya. Namun, perubahan paling kentara ia rasakan di sekitar Praja Mandala Singa Ambara Raja.Dari sana, ia melihat suasana yang berbeda. Remaja putra-putri datang untuk berswafoto, bercengkerama, dan menikmati sore.

“Sekarang kalau sore atau petang, saya lihat banyak remaja putra-putri yang datang, berswafoto dan menikmati suasana,” katanya.

Bagi Suastika, perubahan itu bukan sekadar tentang bangunan yang terlihat lebih tertata. Ada perubahan pada cara orang menggunakan ruang kota. Kawasan yang dulu hanya menjadi bagian dari jalur perjalanan, kini mulai menjadi tempat untuk berhenti.

Pengalaman serupa dirasakan Ketut Seni Amelia (24), perempuan asal Desa Pemaron yang kini merantau di Denpasar. Dalam perjalanan pulang dari Denpasar menuju kampung halamannya, Amelia sebelumnya hanya melewati pusat Kota Singaraja. Tak banyak alasan baginya untuk menghentikan perjalanan.

Namun, setelah penataan kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, keinginannya untuk singgah mulai tumbuh, terutama ketika sore tiba. “Dulu biasanya cuma lewat. Sekarang kalau sore rasanya ingin berhenti sebentar,” ujarnya.

Keinginan itu bukan semata untuk beristirahat. Amelia tertarik mengabadikan suasana Buleleng tempo dulu yang menurutnya masih terasa di kawasan tersebut. Deretan bangunan tua dan ruang kota yang mulai tertata menghadirkan pengalaman berbeda. Ia bahkan menyebut suasananya mengingatkan pada Yogyakarta, meski dirinya belum pernah berkunjung langsung ke kota tersebut. “Rasanya seperti melihat suasana kota lama. Apalagi kalau sore, bagus untuk foto,” katanya.

Perhatian Amelia tertuju terutama pada Gedung Kantor Bupati Buleleng dan keberadaan Gedung Laksmi Graha dan Gedung Galeri UMKM. Menurut cerita para tetua yang ia dengar, bentuk Gedung Kantor Bupati masih mempertahankan karakter seperti dahulu. “Menurut cerita para tetua yang saya dengar, bentuk Gedung Kantor Bupati ini masih sama seperti dahulu,” ujarnya.

Bagi Amelia, keberadaan bangunan lama justru menjadi daya tarik. Di tengah wajah kota yang terus berubah, jejak masa lalu membuat Singaraja memiliki suasana berbeda dari ruang kota modern lainnya.

Dan di titik inilah cerita tentang wajah baru Singaraja bertemu dengan sejarah panjangnya. Sejarawan sekaligus dosen sejarah Undiksha Singaraja I Made Pageh menjelaskan, kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja di sisi barat Singaraja memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan tata kota peninggalan kolonial Belanda. Menurut Pageh, sebelum tugu tersebut berdiri, terdapat pohon besar yang menjadi salah satu penanda kawasan.

“Titik nol kotanya memang dibuat oleh Belanda di situ. Dulu di sebelah barat patung Singa itu ada pohon kayu besar. Di sana ada kilometer nol,” jelas Pageh.

Konsep titik nol tersebut, menurut Pageh, berkaitan dengan cara pandang kolonial dalam menentukan jarak geografis. Dari titik tersebut, jarak menuju wilayah-wilayah lain diperhitungkan. Namun, Singaraja memiliki lapisan sejarah yang lebih kompleks. Di sisi timur terdapat kawasan Catur Pata yang memiliki konteks berbeda dalam tata ruang tradisional dan sejarah Kerajaan Buleleng.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pusat Kota Singaraja bukan sekadar ruang yang terbentuk dalam satu periode. Di dalamnya bertemu berbagai lapisan sejarah, tata ruang kerajaan, tradisi Bali, hingga perencanaan kota kolonial.

Tugu Singa Ambara Raja yang kini menjadi salah satu ikon Singaraja sendiri merupakan bagian dari sejarah yang lebih baru. Menurut Pageh, tugu tersebut dibangun setelah masa kolonial dan kemudian menjadi simbol Kota Singaraja.

Sementara di sekelilingnya, masih berdiri sejumlah bangunan yang menyimpan jejak masa lalu. Salah satunya Gedung Kantor Bupati Buleleng.

“Kantor Bupati itu masih dari zaman Belanda. Dulu itu kantor Residen Bali dan Lombok,” ujar Pageh.

Bangunan tersebut menjadi bagian dari sejarah ketika Singaraja pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial di kawasan Bali dan Lombok. Tidak jauh dari kawasan itu, Pageh juga mengingatkan keberadaan bekas Raad van Kerta, gedung pengadilan pada masa kolonial. Kini bangunan tersebut sudah tidak utuh, tetapi jejak keberadaannya, menurut Pageh, masih dapat ditemukan.

“Itu bangunan bersejarah yang dihilangkan. Itu Gedung Raad van Kerta, Gedung Pengadilan Bali Lombok,” katanya.

Menariknya, perubahan tidak hanya terjadi pada bentuk kawasan, tetapi juga pada fungsi ruang. Pageh menjelaskan, pada masa kolonial, kawasan di sekitar Praja Mandala Singa Ambara Raja bukan ruang yang diperuntukkan bagi masyarakat untuk berkumpul dan menghabiskan waktu seperti sekarang. Kawasan tersebut lebih berkaitan dengan pusat pemerintahan dan kepentingan pengawasan kota. Kini, fungsi itu perlahan berubah.

Pedestrian, ruang terbuka, dan penataan kawasan membuat orang memiliki alasan untuk memperlambat langkah. Remaja datang untuk berswafoto. Pengunjung menikmati sore. Orang yang sebelumnya hanya melintas mulai berhenti. Bagi Pageh, perubahan tersebut harus dilihat dalam konteks perkembangan kota.

“Kalau di titik nol sekarang dijadikan meriah, itu kaitannya dengan era globalisasi, era kapitalisme, era pariwisata untuk mendapatkan uang,” ujarnya.

Namun, keramaian saja tidak cukup. Menurut Pageh, identitas sejarah harus tetap menjadi bagian dari wajah baru Singaraja. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah keberadaan sempadan kolonial, ruang yang dahulu sengaja disediakan dalam tata kota kolonial. Namun ditengah pembangunan yang begitu pesat, sempada itupun sudah dihilangkan.

Ruang tersebut memiliki fungsi penting dalam struktur Kota Singaraja pada masa lalu, termasuk memberikan pandangan ke arah Pelabuhan Buleleng, untuk melihat kedatangan sejumlah kapal untuk berlabuh di Pelabuhan Tua Buleleng.  “Keindahan Kota Singaraja adalah jika dikembalikan sempadan kolonial itu,” katanya.

Keinginan Amelia dan Suastika untuk singgah ternyata sejalan dengan gagasan di balik penataan Praja Mandala Singara Ambara Raja. Kepala Dinas PUTR Perkim Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra, menjelaskan penataan kawasan tersebut sejak awal tidak semata-mata ditujukan untuk mempercantik wajah Singaraja.

Pembenahan justru dimulai dari sesuatu yang tidak langsung terlihat, yakni sistem drainase untuk mengurangi beban genangan ketika hujan deras. Setelah itu, kawasan ditata dengan pedestrian, bangku taman, ruang publik, lampu hias serta jaringan kabel yang dipindahkan ke bawah tanah. 

Penataan konsep kawasan juga memadukan unsur arsitektur tradisional Bali dengan nilai lokal Buleleng. Konsep Palemahan Kauh dan Palemahan kangin yang digunakan sebagai simbol keseimbangan. Unsur lokal turut dihadirkan melalui penggunaan material lokal dan keterlibatan seniman Buleleng dalam pengerjaan ornamen.

“Dengan dukungan anggaran sekitar Rp24 miliar, penataan kawasan dikerjakan kurang lebih 4,5 bulan, dimulai pada Februari 2026. (yud)