Penataan Kawasan Heritage Titik Nol Singaraja tidak hanya menghadirkan ruang publik baru bagi masyarakat, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali jejak sejarah Kota Singaraja sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan pada masanya. Hal itu disampaikan Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, saat meninjau perkembangan kawasan yang kini mulai ramai dikunjungi masyarakat,Kamis,(18/6)
Menurut Sutjidra, meski masih terdapat beberapa pekerjaan penyelesaian akhir, kawasan tersebut sudah dapat dimanfaatkan masyarakat pada waktu-waktu tertentu, khususnya sore hingga malam hari setelah aktivitas pembangunan selesai dilakukan.
"Kawasan ini menyimpan banyak jejak sejarah yang sengaja kita hidupkan kembali melalui penataan kawasan heritage. Jadi yang kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Sutjidra.
Ia menjelaskan, Singaraja memiliki posisi penting dalam sejarah Bali karena pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil dan pusat pemerintahan pada zamannya. Melalui konsep heritage, identitas tersebut dihadirkan kembali agar dapat dinikmati sekaligus dipelajari oleh masyarakat maupun wisatawan.
Selain memperkuat nilai sejarah, penataan kawasan juga diharapkan menjadi penggerak aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Kehadiran ruang terbuka yang nyaman dinilai mampu menciptakan interaksi sosial yang lebih hidup sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.
"Kami ingin kawasan ini menjadi ruang bersama bagi masyarakat. Tempat untuk beraktivitas, berinteraksi, menikmati suasana kota, sekaligus mengenal sejarah daerahnya sendiri," kata dia.
Sutjidra menambahkan, pemerintah daerah akan terus melakukan penyempurnaan kawasan agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat dan mampu menjadi salah satu daya tarik wisata baru di Bali Utara.
Menjelang senja, kawasan yang berada di jantung Kota Singaraja itu tampak dipadati pengunjung. Warga memanfaatkan area tersebut untuk berolahraga, bersantai bersama keluarga, hingga berburu foto dengan latar bangunan bersejarah dan panorama matahari terbenam.
Salah seorang pengunjung, Eli, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), mengaku terkesan dengan perubahan wajah pusat Kota Singaraja yang dinilainya jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.
"Perubahan pembangunan di Kota Singaraja ini sangat luar biasa. Ini membuat interaksi sosial masyarakat lebih banyak di sini. Kami yang datang dari luar Bali sangat mengapresiasi hal ini," ujar Eli.
Menurut dia, penataan kawasan membuat lingkungan kota terasa lebih tertata, luas, dan nyaman untuk dikunjungi.
"Kalau dibandingkan dengan yang dulu tentu perbedaannya sangat mencolok. Sekarang lebih cantik, nyaman, dan cocok untuk menikmati suasana sore maupun berfoto," katanya.
Eli juga menilai suasana Kawasan Heritage Titik Nol memiliki karakter yang unik. Meski kerap disebut mirip dengan kawasan perkotaan di Yogyakarta, ia menegaskan Singaraja tetap memiliki identitas tersendiri.
"Memang ada kesan yang mirip, tetapi Singaraja punya ciri khas sendiri. Ornamen singa yang ada di kawasan ini langsung menunjukkan identitas Kota Singaraja," ujarnya.
Ia berharap penataan kawasan terus berlanjut sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Bali Utara.
"Selama ini banyak wisatawan lebih mengenal Bali Selatan. Dengan adanya penataan seperti ini, kami berharap semakin banyak orang tertarik datang dan mengenal Singaraja," kata Eli.(w/d)