11 Tahun Dedikasi Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti: Menjunjung Kemanusiaan dalam Bingkai Budaya

Admin bulelengkab | 16 Februari 2026 | 213 kali

Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti (WSS) merayakan  hari jadinya yang ke-11 dengan cara yang khidmat dan menyentuh. Berbeda dengan perayaan  tahun-tahun sebelumnya, tahun ini yayasan yang berlokasi di Desa Tukadmungga ini lebih  memfokuskan diri pada aksi kemanusiaan melalui bakti sosial yang melibatkan masyarakat  sekitar.


"Esensi bakti sosial "Vasudeva Kutumbakam mengusung tema kita semua bersaudara". Alasan utama di balik pemilihan kegiatan bakti sosial adalah keinginan founder dan pengurus  untuk menjadikan seni sebagai media pemersatu dan pengabdian nyata," ujar Kadek Angga Wahyu Pradana selaku pemilik yayasan WSS dikonfirmasi, Minggu,(15/2).


Ditambahkan oleh Angga yang juga sebagai pemuda pelopor bidang seni ini bahwasannya yayasan WSS ingin  membuktikan bahwa keberhasilan sebuah sanggar seni tidak hanya diukur dari prestasi di atas  panggung, namun dari seberapa besar manfaat kehadirannya bagi lingkungan sekitar.


"Kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan pada 13 Februari 2026 lalu menyasar warga di sekitar lingkungan yayasan. Sebanyak 100 paket tali kasih berupa sembako dan kebutuhan pokok disalurkan secara langsung kepada para lansia, anak-anak yatim/piatu didik sanggar, serta  masyarakat kurang mampu,"imbuhnya.


Dituturkan oleh Kadek Angga, eksistensi yayasan Wahyu Semara Shanti sejatinya telah berakar sejak tahun 1998. Berawal dari restu  dan bimbingan ayahnya, Ketut Ardana, lembaga seni ini dikembangkan secara visioner setelah melalui perjalanan panjang dalam pelestarian seni kerawitan dan tari, yayasan ini akhirnya resmi memiliki legalitas formal pada tahun 2015." Inilah kemudian menjadi tonggak awal perayaan anniversary hingga mencapai tahun ke-11 pada  Februari 2026 ini. Prinsip kemandirian dan mental yang tangguh akan terus menguatkan kami,"ungkapnya.


Pihaknya berharap Yayasan Seni Wahyu Semara Shanti dapat terus tumbuh  menjadi pusat kebudayaan yang inklusif di Buleleng. Harapan besar yayasan adalah terciptanya iklim berkesenian yang sehat, di mana setiap sanggar dapat saling merangkul tanpa merasa  terancam satu sama lain. 


"WSS berkomitmen untuk terus mencetak generasi muda yang tidak  hanya cerdas secara estetika, tetapi juga memiliki empati sosial yang tinggi, laksana bunga  yang menyebarkan keharuman bagi siapa saja yang ada di sekelilingnya," pungkasnya.(wd)