Semarakkan TLF 2019 dengan Gemarikan, Dinas Perikanan bersama Forikan Selenggarakan Lomba Kreasi Pengolahan Ikan Nila

  • Admin Bulelengkab
  • 06 Juli 2019
  • Dibaca: 320 Pengunjung

Memeriahkan hari terakhir Twin Lake Festival (TLF) ke-6 Tahun 2019 dengan semangat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), Dinas Perikanan Kab. Buleleng bersinergi dengan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan Nasional (Forikan) Kabupaten Buleleng menyelenggarakan Lomba Kreasi Pengolahan Ikan Nila. Lomba yang melibatkan peserta dari PKK Kecamatan se-Kabupaten Buleleng ini diselenggarakan di Wantilan Danau Buyan pada Sabtu (6/7)

Rutin diadakan setiap penyelenggaraan TLF, pilihan jenis ikan yang dilombakan selalu berbeda setiap tahunnya. Hal ini diungkapkan oleh Made Arnika Kepala Dinas Perikanan Kab. Buleleng. Lebih lanjut, Kadis Arnika menyebutkan pilihan ikan setiap tahunnya adalah ikan yang baru dirintis budidayanya di Danau Buyan, sehingga lomba ini sekaligus sebagai ajang promosi ikan tersebut ke masyarakat luas.

Selain itu, Kadis Arnika menambahkan lomba sebagai ajang untuk memperkaya jenis olahan ikan yang dapat dibuat oleh masyarakat, dengan tujuan meningkatkan konsumsi ikan di masyarakat. "Kalau kita sudah menyiapkan berbagai jenis olahan dari ikan, sehingga masyarakat itu tertarik untuk mengkonsumsi dalam rangka meningkatkan konsumsi ikan per kapita per tahun di Buleleng" ujar Kadis Arnika

Kadis Arnika menambahkan dengan meningkatnya konsumsi ikan tentu berbanding lurus dengan peningkatan perekonomian, karena lebih banyak permintaan ikan dan olahannya di pasar "Lebih banyak olahan yang kita perkenalkan, masyarakat kan tertarik untuk mengkonsumsi atau membeli ikan dan olahan-olahannya" ujarnya.

Terkait teknis dan kategori masakan dalam lomba ini, Kadis Arnika menyebutkan pihaknya membebaskan jenis olahan yang dimasak oleh peserta "Silahkan saja, yang penting bahan bakunya dari ikan nila, ikannya disediakan oleh panitia" jelasnya

Selain bahan baku ikan nila 8 kg untuk 6 porsi yang disediakan panitia, Kadis Arnika mengatakan peserta diperkenankan untuk membawa bahan bumbu dan tambahan lain serta peralatan.

Lebih jauh mengenai perkembangan konsumsi ikan di masyarakat Kabupaten paling utara Bali ini, Kadis Arnika mengungkapkan pihaknya secara rutin melakukan evaluasi setiap tahun. Hasilnya, tingkat konsumsi ikan di Kabupaten Buleleng telah memenuhi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kab. Buleleng dan terus meningkat. 

Lanjut Kadis Arnika, evaluasi tersebut dibarengi dengan upaya peningkatan. Selain melalui lomba ini, Kadis Arnika menyebutkan pihaknya secara berkesinambungan mengadakan sosialisasi maupun event dalam rangka menggiatkan Gemarikan dengan prioritas sasaran para pelajar tingkat SD dan TK "Seluruh sekolah sudah kita datangi, sesuai jadwal yang sudah kita kemas setiap tahun" jelas Kadis Arnika.

Selain itu, Kadis Arnika mengungkapkan pihaknya berupaya mengenalkan komoditi olahan ikan lokal kepada wisatawan mancanegara dengan bekerjasama dengan PKK dan instansi terkait seperti Dinas Pariwisata, serta menyertakan semangat Gemarikan pada event besar tahunan tingkat Kabupaten hingga Provinsi. "Melalui PKK kita sering melakukan kegiatan kreasi menu dari masakan ikan. Setiap event-event yang dilakukan oleh instansi terkait kita dukung semua" ungkap Kadis Arnika.

Kadis Arnika berharap dengan semua upaya yang dilakukan, ikan akan menjadi rutintitas untuk dikonsumsi masyarakat Kab. Buleleng "Supaya menu ikan setiap harinya itu menjadi menu utama" pungkasnya.

Kembali ke lomba, seluruh peserta diwajibkan merampungkan masakan olahannya dalam waktu 120 menit. Berbagai jenis masakan disiapkan oleh masing-masing peserta, seperti abon ikan nila, pepes daun asam ikan nila, komak urab ikan nila yang dimasak oleh peserta Tim PKK dari Kecamatan Tejakula, hal itu diungkap oleh Ari selaku salah satu anggota tim tersebut. 

Ari yang baru pertama kali mengikuti lomba ini mengatakan pihaknya melakukan beberapa persiapan, seperti pada penyusunan resep yang dilakukan dengan pencarian di internet.

Sementara itu, Putu Sri Okta selaku salah satu dari empat dewan juri menyebutkan kriteria penilaian pada lomba ini meliputi kebersihan dan cita rasa pada masakannya, kemudian secara estetika pada penataan dan penyajiannya yang menggunakan peralatan makan tradisional Bali, tak luput nilai gizi juga dinilai. Namun, tetap persentase terbesar dalam penilaian keseluruhan ditentukan oleh cita rasa "yang paling tinggi itu cita rasa, 30 persen." ujar Sri Okta.

Lebih lanjut, juri yang juga mengajar tata boga di SMKN 2 Singaraja itu menekankan agar seluruh peserta hanya membawa bahan mentah yang diolah di lokasi lomba, tidak diperkenankan membawa bahan atau bumbu yang sudah diolah dari rumah "Kalau misalnya hidangan itu sudah dimatangkan di rumah, bumbunya sudah diselesaikan di rumah, ya otomatis didiskualifikasi" tegasnya.

Sri Okta menambahkan, hasil masakan yang berjumlah 6 porsi itu akan dibagi antara lain 1 porsi untuk dicicipi juri sebagai penilaian, sedangkan 6 porsi lainnya dihidangkan untuk undangan serta pengunjung. (cnd)


Share Post :