Pentingnya Keamanan Pangan Bagi Generasi Bangsa

  • Dinas Ketahanan Pangan
  • 17 Mei 2019
  • Dibaca: 22 Pengunjung

PENTINGNYA KEAMANAN PANGAN BAGI GENERASI BANGSA


A. Keamanan Pangan Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak asasi setiap warga masyarakat, sehingga harus tersedia dalam jumlah yang cukup, bermutu, aman, bergizi, beragam dengan harga yang terjangkau oleh kemampuan daya beli masyarakat. Keamanan pangan (food safety) merupakan kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Kantor Menteri Negara Urusan Pangan).

Winarno (1997) mengatakan bahwa yang dimaksud keamanan makanan diartikan sebagai terbebasnya makanan dari zat-zat atau bahan yang dapat membahayakan kesehatan tubuh tanpa membedakan apakah zat itu secara alami terdapat dalam bahan makanan yang digunakan, atau tercampur secara sengaja atau tidak sengaja ke dalam bahan makanan atau makanan jadi. Keamanan pangan dipengaruhi oleh lingkungan, sosial budaya dan ekonomi, sistem pangan dan distribusi pangan, saling ketergantungan antara gizi dan keamanan pangan. Makanan yang tidak aman kalau dipaksakan dikonsumsi akan timbul gangguan kesehatan dan bisa berakibat lebih jauh pada kematian. Salah satu contohnya adalah diare terus-menerus karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman sehingga menyebabkan gangguan penyerapan zat-zat gizi/malabsorbsi.

Salah satu sasaran pengembangan di bidang pangan adalah terjamin pangan yang dicirikan oleh terbebasnya masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan. Hal ini secara jelas menunjukan upaya untuk melindungi masyarakat dari pangan yang tidak memenuhi standar dan persyaratan kesehatan. Sasaran program keamanan pangan adalah: (1) Menghindarkan masyarakat dari jenis pangan yang berbahaya bagi kesehatan, yang tercermin dari meningkatnya pengetahuan dan kesadaran produsen terhadap mutu dan keamanan pangan; (2) Memantapkan kelembagaan pangan, yang antara lain dicerminkan oleh adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur keamanan pangan; dan (3) Meningkatkan jumlah industri pangan yang memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dengan diberlakukannya UU No. 7 tentang pangan tahun 1996 sebuah langkah maju telah dicapai pemerintah untuk memberi perlindungan kepada konsumen dan
produsen akan pangan yang sehat, aman, dan halal. Gambaran keadaan keamanan pangan secara umum adalah: (1) Masih ditemukan beredarnya produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan; (2) Masih banyak dijumpai kasus keracunan makanan; (3) Masih rendah nya tanggung jawab dan kesadaran produsen serta distributor tentang keamanan pangan.

Menurut Peraturan Pemerintah No 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan, keamanan pangan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, industri pangan dan konsumen. Pemerintah bertanggung jawab untuk melaksanakan sistem pengawasan keamanan pangan melalui pengaturan, standardisasi, penilaian dan inspeksi keamanan pangan serta edukasi kepada konsumen dan industri pangan mengenai keamanan pangan. Industri pangan bertanggung jawab untuk menjaga mutu dan keamanan produk yapangan yang tidak bermutu dan tidak aman, Oleh sebab itu konsumen perlu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai keamanan pangan diantaranya pengetahuan tentang praktek higiene yang baik saat menangani, mengolah, menyajikan dan menyimpan pangan. Sinergi diantara ketiga pihak ini dengan tanggung jawabnya masing-masing sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan keamanan pangan secara nasional.

B. Keamanan Pangan dan Generasi Bangsa
Anak sekolah merupakan generasi penerus bangsa dan merupakan modal pembangunan. Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi anak adalah kebiasaan makan. Kebiasaan anak senang jajan dapat berdampak buruk sebab banyak makanan jajanan yang tidak aman dan tidak sehat beredar. Mengonsumsi makanan jajanan yang tidak aman dan tidak sehat dapat menyebabkan anak terkena penyakit dan dapat menurunkan status gizi anak (Haryanto, 2002).Sebenarnya orang tua ikut andil dengan kebiasaan anak mengonsumsi jajanan.

Untuk menenangkan anak yang sedang rewel, orang tua terkadang membiarkan anaknya jajan atau bahkan membelikan jajanan. Akibatnya, anak menjadi kenyang dan malas makan masakan rumah serta lama kelamaan anak jadi punya kebiasaan jajan. Ada juga orang tua yang merasa cukup bijaksana melarang anaknya mengonsumsi jajanan kaki lima tapi membekali anaknya dengan snack seperti keripik kentang, soft drink, junk food seperti biskuit, krekers atau fast food. Disamping ituada juga orang tua yang membiarkan anaknya makan jajanan kue-kue tradisional dengan keyakinan bahwa jajanan tersebut lebih aman. Padahal kenyataannya, selain kebersihannya kurang terjamin, penggunaan pengawet, pewarna, dan pemanis buatannya lebih sulit dikontrol (Mudjajanto, 2006).

Berbicara masalah pangan yang aman, bermutu dan bergizi seimbang tidak terlepas dari faktor keamanan pangan. Masalah keamanan pangan memang menjadi isu strategis saat ini. Berbagai kasus gangguan kesehatan manusia akibat mengonsumsi pangan yang tercemar oleh cemaran fisik, biologis, dan kimia telah terjadi diberbagai daerah dan bahkan tergolong sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

C. Bahan Tambahan Makanan Berbahaya
Kasus keamanan pangan yang banyak dijumpai adalah keracunan pangan, dimana salah satu sumber pangan yang menyebabkan keracunan adalah makanan jajanan. Secara umum, jajanan yang dijual pedagang kaki lima di SD kualitasnya sangat memprihatinkan bila ditinjau dari aspek kesehatan.
Keamanan pangan bukan saja menghindarkan makanan dari kontaminasi mikrobiologi tetapi juga kontaminasi kimia, terutama pada penambahan bahan makanan tambahan yang secara di sengaja ditambahkan pada proses pengolahananya. Bahan tambahan makanan terlarang yang masih sering digunakan dalam makanan antara lain formalin, boraks, metanil yellow dan rhodamin b
Data Badan POM tahun 2010 menunjukkan adanya jajanan yang tidak memenuhi syarat dengan ditemukannya dari 2.984 sampel yang diuji, 45% diantaranya tidak memenuhi syarat karena mengandung BTP yang dilarang seperti atau BTP yang diperbolehkan seperti benzoat, sakarin, dan siklamat namun penggunaannya melebihi batas, serta ada yang tidak memenuhi uji cemaran mikroba karena mengandung Escherichia coli. (BPOM)

Boraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi borakstidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya. Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh. Berikut beberapa pengaruh boraks pada kesehatan.
Sering mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian.

Sedangkan formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol.

Boraks dan formalin akan berguna dengan positif bila memang digunakan sesuai dengan seharusnya, tetapi kedua bahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengawet makanan karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya, seperti telah diuraikan diatas pengaruhnya terhadap kesehatan. Walaupun begitu, karena ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, banyak produsen makanan yang tetap menggunakan kedua bahan ini dan tidak memperhitungkan bahayanya.. Beberapa contoh makanan yang dalam pembuatannya sering menggunakan boraks dan formalin adalah bakso, ikan, tahu,dan mie,.Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi
manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf.

Boraks dan formalin biasanya terdapat pada produk makanan : tahu, bakso, ikan asin, mie, lontong, legendary (Winarno, 2004). Selain formalin dan boraks, beberapa jenis bahan makanan juga mengandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil, kertas, dan cat (Rhodamin B), methanil yellow, amaranth. Pemakaian ini sangat berbahaya karena bisa memicu kanker serta merusak ginjal dan hati. Payahnya lagi, bahan-bahan ini ditambahkan pada jajanan untuk anak-anak seperti es sirop atau cendol, minuman ringan seperti limun, kue, gorengan, kerupuk, dan saus sambal.

Kenali ciri-ciri makanan mengandung btm berbahaya Ciri makanan berformalin :

Awet, tahan dua hari dalam suhu, Bau sedikit menyengat. Mi basah: Pada suhu 10ºC atau dalam lemari es bisa tahankamar (25º Celsius). Mi tampak mengkilat (seperti berminyak), liat (tidak lebih 15 hari. ? Bentuknya sangat bagus. mudah putus), dan tidak lengket. Tahu: Tidak mudah hancur dan awet (sampai tiga hari pada suhu kamar Kenyal. Bau agak (25ºC). Pada suhu lemari es (10ºC) tahan lebih dari 15 hari. Awet, Kenyal  Aroma kedelai sudah tak nyata lagi Bakso: menyengat. Warna setidaknya pada suhu kamar bisa tahan sampai lima hari. Ikan: Insangnya berwarna merah tua dan bukan merah Kenyal. putih bersih. Awet (pada suhu kamar) sampai beberapa hari dan tidak mudah segar. Tidak terasa bau amis ikan, melainkan ada bau menyengat Ikan busuk. Ikan berwarna bersih cerah asin:

Awet sampai lebih dari 1 bulan pada suhu Tidak berbau khas ikan. ? Liat (tidak mudah hancur). Ciri makanan berboraks : Sama kamar (25ºC). seperti formalin, cukup sulit menentukan apakah suatu makanan mengandung boraks. Hanya lewat uji laboratorium, semua bisa jelas. Namun, penampakan luar tetap memang bisa dicermati karena ada perbedaan yang bisa dijadikan pegangan untuk menentukan suatu makanan aman dari Warna putih bersih lebih kenyal dibanding?boraks atau tidak. Bakso  Bila digigit akan kembali ke bentuk semula. bakso tanpa boraks. Bakso Tahan lama atau awet beberapa hari.Warnanya tampak lebih putih. yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian, baik di pinggir  Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul. maupun tengah. Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bekel. Ciri Warna kelihatan cerah, makanan yang mengandung Rhodamin B: Ada sedikit rasa pahit (berwarna-warni), sehingga tampak menarik. Muncul rasa gatal di tenggorokan (terutama pada sirop atau limun). Baunya tidak alami sesuai makanannya.setelah mengonsumsinya.

Melalui informasi atau pesan keamanan pangan, diharapkan masyarakat mendapatkan pengetahuan yang lebih baik sehingga dapat menggugah dan memotivasi masyarakat agar merubah perilaku untuk mendapatkan keamanan pangan yang lebih terjaga. Kurangnya pengetahuan mengenai pengolahan pangan yang baik menyebabkan konsumen terbiasa mengolah pangan dengan cara yang salah sehingga pangan yang dihasilkan memiliki risiko terhadap kesehatan. Untuk itu konsumen harus berperan aktif dengan melakukan indakan agar
pangan yang dikonsumsi berkurang bahayanya sehingga dapat melindungi diri dan keluarganya dari keracunan pangan.

Share Post :