Logo
0362 - 21146
  • Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng
Senin Pon

Baca Artikel

Apa Kabar UKM Buleleng

Oleh : 1 | 24 April 2014 | Dibaca : 5860 Pengunjung

    Jika menyambangi sejumlah artshop, kios atau showroom yang menjual  hasil kerajinan tangan di objek – objek wisata di Bali selatan, semisal di Pantai Kuta, Sanur, dan Ubud. Dan diantara produk kerajinan yang dipajang, terlihat kerajinan album pelepah pisang, pigura limbah alam, hiasan lidi, tempat koran dari batang bunga aren, hiasan lampu dari kerang, mungkin Anda akan bertanya darimanakah produk kreasi unik nan eksotik ini dibuat. Lalu, jika berpikir, kerajinan tangan ini semuanya dibuat oleh pengerajin dari Gianyar, atau dari kabupaten lainnya di wilayah Bali selatan, Anda keliru sebab diantara produk kerajinan itu merupakan hasil kreasi para pengerajin Buleleng. Begitu juga, jika membeli kain endek dan songket benang sutra alam yang indah motivnya serta cantik nan anggun warnanya, jangan kecele, diantara kain endek dan songket benang sutra alam itu merupakan produk Usaha Kecil Menengah di Buleleng. Kenapa bisa begitu? Ini akibat kondisi Kabupaten Buleleng yang terbentang di belahan Bali utara, yang seakan terisolir, karena terbatasnya infrstruktur jalan dan promosi, menyebabkan para pengerajin Buleleng termarjinalkan dari keriuhan pariwisata, sehingga tak mampu menjamah buyers secara langsung dari para turis mancanegara maupun domestic. Untuk ini, mereka mesti rela hasil kerajinannya yang tak bermerk di pajang di kios-kios, artshop dan showroom melalui  pengusaha lainnya.

    Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Koperasi ,Perindustrian, Perdagangan Buleleng telah mengambil sejumlah langkah untuk memajukan dan mengembangkan UKM Buleleng.

     Kadis Kopdagprin Buleleng, Ir. Made Arnika mengaku, untuk memajukan, mengembangkan dan memberdayakan para pelaku UKM Buleleng, mereka dilibatkan dalam berbagai kegiatan pameran, baik di tingkat lokal, provinsi dan nasional. Selain itu mereka juga diberikan bantuan peralatan kerja, serta difasilitasi untuk mengikuti workshop atau pelatihan. “ Nanti , sekitar bulan September dan Oktober, empat orang pengerajin tenun, akan ada pelatihan di Sekolah Tinggi Textil di Bandung untuk meningkatkan kemampuan di bidang pencelupan pewarnaan, “ ucapnya. Selain itu, Pemkab Buleleng juga melakukan revitalisasi pasar, untuk pemberdayaan UKM yang bergerak di bidang perdagangan. “ UKM juga meliputi usaha mikro kecil seperti dagang-dagang di pasar tradisional. Melalui revitalisasi pasar, dagang-dagang merasa nyaman dan lebih hiegnis dalam melaksanakan usaha mereka,” jelas Arnika.

     Dukungan memajukan UKM Buleleng, juga dilakukan oleh TP PKK Buleleng. Bekerja sama dengan sebuah perguruan tinggi dari Denpasar dan sebuah media koran mingguan, Ketua TP PKK Buleleng, Nyonya Aries Suradnyana menggelar pelatihan bisnis online bagi UKM Buleleng. Melalui pengetahuan bisnis online, diharapkan UKM Buleleng bisa mempromosikan produknya dengan cepat.

      Mempromosikan produk UKM melalui online terbilang menggiurkan di jaman teknologi informasi canggih ini. Menurut Ketua Stikom Bali, Drs.Dadang Hermawan,AK.MM, “ Mempromosikan produk melalui ICT- Information and Communication Teknology dalam satu jam akan menjangkau 60 juta orang di seluruh dunia. Selain itu, biayanya juga lebih murah dibandingkan berpromosi melalui media televisi maupun media cetak.”

     Terkait inilah Dinas Kopdagprin Buleleng berencana akan membantu mempromosikan produk-produk UKM Buleleng melalui subdomain website milik Pemkab.Buleleng. “ Saat ini sedang didata dan direkam hasil UKM Buleleng .Mudah-mudahan pada anggaran perubahan tahun ini bisa terwujud, “ ucap Made Arnika.

Endek dan Songket Buleleng Jadi Primadona

     Jumlah pelaku UKM Buleleng di Buleleng, pada data di Dinas Kopdagprin Buleleng, sebanyak 9.321 UKM. Jumlah ini terbagi di UKM bidang perdagangan sebanyak 5.837, kemudian UKM bidang perindustrain pertanian sebanyak 1.568 , dan UKM bidang industry non pertanian sebanyak 1.220,dan aneka jasa sebanyak 696 pelaku.

     Jenis usaha dari UKM Buleleng ini, antara lain, pembuatan keramik, tekstil, tempe kedelai, reproduksi media rekam film dan video, industry kue basah, furniture kayu, pengolaha kopi dan teh, kerajinan kayu, kerajinan bambu, album pelepah pisang, industry roti, air minum dalam kemasan, dupa, pagar terali besi, cetak kartu nama, printing, kain endek dan songket, pupuk organic, minyak angina aromatic, foto copy dan penjilidan, pembuatan tkar, anyaman rotan, jamu, pembuatan abon dan sudang lepet, kerajinan perak dan emas, dulang dan peralatan upacara, minuman anggur, dodol, sablon, susu kambing segar, es krem, gong gambelan, kue kering, aneka jajan,permen kopyos.

      Sentra dari UKM untuk kain tenun endek, yang masih aktif, terdapat di Desa Bondalem Kecamatan Tejakula, Desa Kalianget Kecamatan Seririt, Desa Sinabun Kecamatan Sawan, dan Desa Pacung Kecamatan Tejakula.

     Terkait industry kain endek dan songket benang sutra , menurut Kadis Kopdagprin Buleleng, Made Arnika, setiap kali diadakan pameran , kain endek dan songket benang sutra alam menjadi produk primadona pilihan pengunjung. “Endek dan songket benang sutra paling digemari,dan banyak laku, “ucapnya. Kemudian rangking berikutnya yang digemari pengunjung pameran adalah kerajinan alumunium, kerajinan anyaman bambu, dan kerajinan lainnya, “ tambahnya.

 

Motif Endek dan Songket Buleleng

Jika dicermati, setiap lembar kain tenun tidak hanya dihiasi warna, juga motif. Motif kain endek dan kain songket sebenarnya berbeda-beda. Di Buleleng, menurut Nyoman Jayadi pengerajin endek sekaligus pengelola UKM Ayu Lestari tenun ikat di Desa Kalianget, motif khas Buleleng jumlahnya banyak. Diantara motif yang sempat di produksi adalah motif Geringsing, Keplokan, Wajik, Sosor Biu, Singa dsb.

Mengenai harga endek, menurutnya, berbeda-beda tergantung cara membuatnya. Pembuatan endek ada yang memakai alat tradisional - alat tenun cagcag, dan ada yang membuat dengan ATBM. “ Kami membuat endek menggunakan alat tradisional, karena itu harga endek berkisar  Rp. 400 ribu sampai 700 ribu, “ jelasnya.

Sementara itu, pengerajin songket sutra dari Desa Jineng Dalem, Ketut Sri Poni mengatakan motif songket khas Buleleng banyak jenisnya, antara lain dikenal dengan nama motif  Patra Sari, Pot-potan, Bunga Sungenge, Semanggi Gunung, Bintang Kecil, Cakar Ayam dsb. “ Motif khas Buleleng yang berhasil saya kumpulkan baru 16 motif. Semuanya saya warisi dari ibu saya, “ ungkapnya.

 

Lebih jauh Sri Poni yang memiliki usaha bernama Weaving Centre Poni’S mengaku belajar membuat songket sejak anak-anak, sebagaimana para pengerajin tenun lainnya. Namun kini, tidak ada lagi anak-anak yang belajar menenun. “ Mungkin karena perkembangan jaman dan sibuk sekolah,” ucapnya setengah mengeluh.

Usaha Sri Poni sempat lesu tahun 1990. Lalu sekitar tahun 2010 bergairah lagi. Hal ini disebakan yayasan CTI- Cinta Tenun Indonesia dan PT.Garuda melakukan pembinaan teradap 13 pengerajin songket di Desa Jineng Dalem.” Kami dibina mengenai motif, bahan, serta pewarnaan, dan dipromosikan serta diajak berpameran, “ kenangnya. Lalu sejak itu  usaha tenun songket kembali bergairah, dan ia pun mempekerjakan dan meghimpun sampai 25 pengerajin songket.

Larisnya songket buatannya ,karena pada masa ini kain songket tidak hanya dipakai kain bawah, juga dikreasi menjadi busana resmi maupun pesta. Karena itulah sejumlah desainer ibu kota  meliriknya menjadi mitra kerja dan memesan kain songket produksinya.

Mengenai harga, Ketut Sri Poni mengatakan berkisar Rp.4 juta sampai Rp. 10 juta. “ Harga tergantung motif yang dipesan ,dan lama pengerjaan serta tingkat kerumitannya. Setiap songket dikerjakan 1 – 1,5 bulan. Ukuran songket panjang 2 meter lebih dan lebar 1.10 meter.

 

Pemkab Buleleng Berpihak Pada UKM Buleleng

Perhatian Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana untuk memajukan UKM Buleleng bisa dilihat secara nyata pada pakian endek yang digunakan setiap hari Kamis oleh para pegawai Pemkab.Buleleng . Pakian endek berwarna biru bermotif singa ambara raja,suatu ikon Buleleng yang sudah dikenal luas, mulai dipakai secara serentak  tahun 2013 , beberapa bulan setelah Bupati dan Wakil Bupati PAS dilantik tahun 2012. Pakian endek motif singa ambara raja ini semuanya dibuat oleh UKM Buleleng. Dampaknya, UKM yang bergerak dibidang tenun makin bergairah memproduksi tenun endek. Rencananya, tahun ini, bulan Agustus, Pemkab. Buleleng akan menggelar perhelatan bertajuk “Endek Festival”. Perhelatan ini, tentunya memiliki tujuan utama yakni memperkenalkan secara luas bahwa pengerajin Buleleng juga membuat kain tenun endek yang hasilnya bersaing dengan produk endek dari kabupaten lainnya.

Selain itu, dalam ajang Bulfest 2013, Bupati kembali megambil langkah memihak UKM Buleleng dengan memberi ruang sepenuhnya untuk memamerkan produk UKM  Buleleng. Pada ajang yang menyedot ribuan pengunjung ini, tidak hanya memamerkan hasil UKM di bidang idustri kecil,juga usaha mikro yang banyak digeluti oleh ibu-ibu PKK di desa-desa yang menjual kuliner  tradisional khas desa. Hasilnya patut dipuji. Usaha mikro berupa kuliner desa yang salama ini hanya dijual di pedesaan menjadi naik kelas secara mendadak, nak kelas menjadi menu makanan kota. Para pengunjung Bulfest pun menyerbu stand-stand kuliner milik kecamatan-kecamatan yang menyuguhkan menu khas desa di kecamatannya, seperti mengguh, belayag, entil,rambanan, jukut buangit, pesan telengis, jukut embung, sudang lepet dsb.

 

Dari Sidetape ke Tegalalang dan Kuta            

Selama ini Desa Sidetape, Kecamatan Banjar dikenal menghasilkan kerajinan sangkar ayam, sangkar burung dan aneka anyaman bambu. Namun, Putu Sinarjaya yang lama merantau di Kuta,Badung, sehingga memahami kebutuhan turis mancanegara, lalu mengembangkan kreatifitas yang diwariskan leluhurnya dari hanya mengayam bambu menjadi mengayam aneka limbah alam. Hasilnya patut dipuji. Aneka kerajinan yang diproduksi UKM Sinar Dewata miliknya mampu menerobos kios seni di Tegalalang ,Gianyar dan Kuta,Badung.

UKM Sinar Dewata ini memproduksi aneka asesoris alami untuk hotel, rumah, dan tas modis untuk perempuan. “ Bahannya saya ambil dari limbah alam yang ada di seputar desa saya Sidetape, “ ungkapnya. Limbah dimaksud, batok kelapa, akar bamboo, lidi, ranting aren, ranting buah kelapa,batang enau dan bambu Limbah dikreasi secara unik menjadi tempat lampu, tempat lilin, korden, taplak meja,asbak, tas, besek kecil, dsb. “ Semua hasil kerajinan ini dikerjakan oleh tetangga-tetangga saya yang tidak kerja. Dasarnya, mereka memang terampil mengayam bambu, sudah turun temurun, lalu saya memberi desain baru, menggunakan bahan alam lainnya yang sudah tidak dilirik kecuali untuk kayu bakar,” lanjutnya. “ Kerajinan kami banyak disukai tamu-tamu mancanegara, karena berbahan alami,” tambahnya.

Mengenai order untuk ekspor, Putu Sinarjaya mengaku, dilakukan melalui adiknya yang membuka showroom di Tegalalang yang menerima order dari tamu-tamu bisnis yang numplek di Gianyar.

Kerajinan bambu denga anek produknya juga dikembangkan di Desa Tigawasa. Salah satu kreatifitas yang unik adalah asbak dari akar bambu. “ Asbak ini banyak yang membeli, “ ungkapnya. *

 

(Singa Manggala, Edisi 2/XIV/2014)


Oleh : 1 | 24 April 2014 | Dibaca : 5860 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG

dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG

Wakil Bupati






Video Galeri


Agenda Kegiatan


Kecamatan


Jajak Pendapat

Bagaimana Penilaian Anda Terhadap Website Pemerintah Kabupaten Buleleng

    Res : 693 Responden