Aura Sakral Tujuh Ribu Lebih Penari Rejang Renteng Getarkan Buleleng

  • Admin Bulelengkab
  • 30 Maret 2019
  • Dibaca: 1065 Pengunjung

Tari Rejang Renteng Massal sukses getarkan Buleleng, aura sakral kental terasa disepanjang jalan Ngurah Rai Singaraja dari ujung utara depan SMK N 1 Singaraja hingga selatan tepat di areal Tugu Singa Ambara Raja pada Sabtu sore, (30/3).

Aura sakral dalam Tari Rejan Renteng ini memang sangat kental terasa dikarenakan tarian itu merupakan jenis tarian sakral/ niskala Umat Hindu di Bali, terlebih lagi pementasan tari yang dilakukan adalah rangkaian upakara ritual memohon kedamaian jagat Buleleng yang ajeg dan trepti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelumnya dalam pembukaan parade budaya dan lomba endek, Kadis Kebudayaan Buleleng Drs. Gede Komang M.Si menerangkan berbagai ritual keagamaan telah dilakukan, antara lain mapiuning di Pura Dalem Ped, di Gedong Suci Dinas Kebudayaan Buleleng, Tugu Singa Ambara Raja dan Pura Jagatnatha. Kemudian melakukan pemercikan tirta disepanjang jalan Ngurah Rai dan tirta serta bija juga diberikan kepada seluruh penari Rejang Renteng. 

Gede Komang juga menjelaskan Tari Rejang Renteng Massal yang pertama kali dipentaskan pada puncak HUT Kota Singaraja Ke-415 ini diikuti oleh 148 desa yang ada di Kabupaten Buleleng dengan jumlah penari sebanyak 7.289 orang. Syarat mutlak yang diperbolehkan ikut menari rejang renteng adalah wanita yang sudah menikah atau wanita yang telah disucikan “Pemangku”. 

Sementara itu, menurut penjelasan Ida Ayu Made Diastini yang merupakan narasumber dalam pelaksanaan ritual Rejang Renteng menegaskan bahwa Tari Rejang Renteng bukanlah tari show atau fashion semata melainkan merupakan tarian sakral atau bersifat niskala.”Rejang itu tari wali, Renteng itu berarti renta atau tua”, Ujar Diastini. 

Diastini berharap kedepannya tari Rejang Renteng selalu dipentaskan dengan melakukan  ritual sakral terlebih dahulu. Karena tari Rejang Renteng sudah dikukuhkan sebagai tari wali dan hal yang membanggakan yaitu sebagai contoh pertama kali pementasan sakral adalah di Buleleng.

Atas upaya Diastini tersebut, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, ST memberikan Piagam Penghargaan sebagai Narasumber dalam pelaksanaan ritual Rejang Renteng. (Agst).



Share Post :