RAHINA KAJENG KLIWON

  • Dinas Kebudayaan
  • 22 November 2020
Kajeng Kliwon merupakan hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, karena diyakini pada hari itu Sanghyang Siwa sedang bersemedi. Upacara Kajeng Kliwon termasuk dalam upacara Dewa Yadnya. Masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa upacara Kajeng Kliwon begitu suci sehingga dianggap keramat. Upacara Kajeng Kliwon dilaksanakan setiap 15 hari kalender. Pada hari Kajeng Kliwon umumnya digunakan untuk berbuat Ugig oleh orang yang menekuni Ilmu Pengeleakan di Bali. Di Bali Pangeleakan atau Penestian dihidupkan pada waktu rahina Kajeng Kliwon. Untuk menetralisir hal tersebut, umat Hindu diwajibkan melakukan pengendalian diri berupa meditasi, tapa brata, yoga dan semadhi. Banten segehan/blabaran adalah salah satu sarana untuk menetralisir kekuatan negatif. Hari Kajeng Kliwon jatuh pada perhitungan Tri Wara yakni Kajeng kemudian Panca Waranya yakni Kliwon. Dengan demikian, maka hari ini adalah sebuah hari dimana pertemuan antara Kajeng dengan Kliwon diyakini sebagai saat energy alam semesta yang memiliki unsur dualitas bertemu satu sama lain. Energy dalam alam semesta yang ada di Bhuwana Agung semuanya terealisasi dalam Bhuwana Alit atau tubuh manusia itu sendiri.
Rerainan Kajeng Kliwon yang datangnya setiap 15 hari sekali terbagi menjadi 3 jenis yaitu :
1. Kajeng Kliwon Uwudan
2. Kajeng Kliwon Enyitan
3. Kajeng Kliwon Pamelastali (Watugunung Runtuh, yang datang setiap 6 bulan sekali)
 
Share Post :